PERURI Digital Summit 2026 Dorong Kesiapan Indonesia Hadapi Ancaman Keamanan Digital melalui Post-Quantum Cryptography

PERURI Digital Summit 2026 Dorong Kesiapan Indonesia Hadapi Ancaman Keamanan Digital melalui Post-Quantum Cryptography

Tanggal Rilis

08.11.2026

Penulis

Biro Operational Corporate Branding

S I A R A N  P E R S

Nomor: 51/PR-PERURI/XI/2026

 

PERURI Digital Summit 2026 Dorong Kesiapan Indonesia Hadapi Ancaman Keamanan Digital melalui Post-Quantum Cryptography

 

Jakarta – Perkembangan teknologi kuantum membuka peluang baru bagi kemajuan teknologi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap keamanan informasi digital. Kemajuan teknologi ini berpotensi memengaruhi keandalan sejumlah sistem kriptografi yang saat ini digunakan untuk melindungi data dan infrastruktur digital. Menyikapi perkembangan tersebut, PERURI mengangkat Post-Quantum Cryptography (PQC) sebagai salah satu topik utama dalam PERURI Digital Summit 2026 yang diselenggarakan pada Oktober lalu di Taman Kota PERURI, Jakarta Selatan.

 

PQC merupakan pendekatan kriptografi yang dirancang agar tetap aman dari potensi serangan komputer kuantum di masa depan. Pengembangan teknologi ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan informasi digital dalam berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, keuangan, kesehatan, hingga infrastruktur strategis nasional.

Dalam panel diskusi hari pertama, para narasumber menyoroti salah satu risiko yang perlu diantisipasi, yaitu Harvest Now, Decrypt Later. Ancaman ini merujuk pada kemungkinan data terenkripsi dikumpulkan saat ini untuk kemudian dibuka ketika teknologi telah memiliki kemampuan yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan ancaman yang dihadapi hari ini, tetapi juga perlindungan informasi yang harus tetap terjaga dalam jangka panjang.

 

Menghadapi risiko tersebut, keandalan institusi dan organisasi menjadi aspek yang tidak kalah penting dibandingkan perkembangan teknologi itu sendiri. Langkah awal dapat dilakukan melalui pemetaan aset digital, identifikasi sistem kriptografi yang digunakan, evaluasi risiko keamanan, serta penyusunan prioritas penyesuaian teknologi berdasarkan tingkat sensitivitas dan kebutuhan perlindungan informasi.

 

Dalam diskusi tersebut, Edwin Purwandesi selaku Direktur Bisnis Digital PERURI, menjelaskan keterlibatan PERURI dalam kelompok kerja persiapan menghadapi perkembangan teknologi pasca kuantum. Salah satu tahapan yang dilakukan adalah mempersiapkan mekanisme untuk mengidentifikasi aset digital yang berpotensi terdampak.

 

“Kami sedang masuk di fase satu penyiapan mekanisme dan tools untuk scanning inventory yang kemungkinan terdampak. Langkah ini menjadi fondasi awal untuk memahami potensi risiko pada sistem keamanan digital, sehingga proses mitigasi dan penyesuaian teknologi dapat dilakukan secara bertahap dan terarah dalam menghadapi perkembangan komputasi kuantum” jelas Edwin.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Eko Yon Handri dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi ancaman komputasi kuantum, khususnya melalui penerapan teknologi Post-Quantum Cryptography (PQC). Menurutnya, perkembangan komputasi kuantum menuntut institusi dan organisasi untuk mulai mengevaluasi sistem keamanan digital serta mempersiapkan transisi menuju teknologi kriptografi yang lebih tangguh terhadap ancaman masa depan.

 

“Ancaman komputasi kuantum perlu diantisipasi sejak dini, mengingat data yang terenkripsi hari ini berpotensi dibuka di masa depan. Oleh karena itu, kesiapan dalam mengadopsi teknologi kriptografi pasca kuantum menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan data dan kepercayaan digital tetap terjaga seiring perkembangan teknologi,” jelas Eko.

Pembahasan mengenai PQC kemudian diperdalam pada hari kedua melalui sesi masterclass dengan topik “Quantum Safe in Practice: Penerapan ML-KEM dan ML-DSA dari Perspektif Pembangun dan Penguji Sistem.” Sesi ini memberikan wawasan mengenai penerapan algoritma kriptografi tahan kuantum, kesiapan arsitektur sistem, serta pendekatan pengujian keamanan sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

 

Rangkaian pembahasan tersebut menegaskan bahwa perlindungan informasi di era komputasi kuantum perlu dipersiapkan sejak dini, sebelum ancaman tersebut menjadi semakin nyata. Melalui PERURI Digital Summit 2026, PERURI mendorong langkah antisipatif dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kesiapan keamanan digital nasional. Upaya ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam menjaga keamanan data dan infrastruktur strategis, membangun kepercayaan terhadap ekosistem digital, serta memperkuat ketahanan dan kedaulatan digital Indonesia di tengah perkembangan teknologi global.

 

-000-

 

Dikeluarkan oleh: Biro Corporate Communication & TJSL

Contact Person(s):

  1. Adi Sunardi, Head of Corporate Secretary (021-7395000 ext. 1120)

  2. Evan Septantyo, Kepala Biro Corporate Communication & TJSL (021-7395000 ext. 1132)